Senin, 23 Februari 2015

KEHIDUPAN DAN ANGAN-ANGAN

Aku berjalan menyusuri pinggaran kota, mencoba mempelajari kehidupan sosial dikota baru aku tinggal, aku melihat begitu banyak manusia yang berlalu lalang sibuk mencari kenikmatan dunia, banyak dari mereka yang terlalu fokus mencari kenikmatan dunia bahkan tak mempedulikan kehidupan sosial mereka, kamu adalah kamu dan aku adalah aku begitu kata banyak orang kehidupan dikota ini, tapi ada juga beberapa malaikat yang kadang masih memikirkan keadaan sosial walaupun tak banyak bahkan sangat jarang.

Aku mencoba menaiki sebuah bis untuk perjalanan yang cukup jauh, aku melihat begitu banyak anak jalanan mengejar bis kesana kesini meminta beberapa uang recehan yang katanya uang tersebut untuk mengisi perut mereka dengan sesuap nasi, mereka berkata "lebih baik kami meminta daripada kami harus mencopet atau mencuri" begitu jujur kata mereka, tapi disaat mereka meminta aku mulai berpikir siapa yang tahu uang tersebut untuk makan? atau bisa jadi untuk hal lainnya? atau mungkin bisa jadi juga uang tersebut untuk hal negatif? siapa yang tahu? kurangnya pengawasan orang tua untuk mengawasi anaknya dan tak banyak pula orang tua mereka yang malah menyuruh untuk meminta uang dijalanan, mungkin bisa jadi anaknya yang tidak mau diatur dan ingin bebas sendiri, terkadang timbul rasa kasihan melihat mereka untuk uang makan saja mereka masih merasa kurang bagaimana untuk memulai sesuatu pendidikan atau untuk memulai masa depan.

Sambil didalam bis aku memainkan handponeku, aku memulai dengan membuka media sosial twitter dan ada satu hal yang mengganjal penglihatanku, aku membaca ada seorang anak yang mungkin sedang terjerat masalah dengan orangtuanya kemudian menulis status dengan kata kata kasar dia menghina orang tuanya seakan dia tak tahu begitu banyak jasa orang tuanya dalam membesarkannya, sang ibu melawan maut untuk melahirkannya dan sang ayah banting tulang membesarkannya, aku berpikir seandainya anak itu yang berada diposisi anak jalanan apa dia sanggup? Sepertinya tidak.

Kemudian di suatu malam aku melihat seorang teman yang baru saja aku kenal, dia baru saja pulang dari perjuangannya menjual kopi disuatu pasar, dikedua tangannya penuh dengan beban dagangannya, melihat begitu sontak aku langsung meminta untuk membawa salah satu beban yang ada ditangannya awalnya dia menolak tapi dengan paksaan aku berhasil membujuknya, dengan merasa tidak enak diapun membiarkan aku membawa salah satu beban bawaannya dan dengan bangga hati aku membawa salah satu bebannya dan mengikuti arah kemana barang itu akan dihantar.

Tak lama berjalan kami hampir sampai ditempat dimana bawaan itu dihantarkan tapi sebelum kami sampai ketempat tersebut kami harus melewati beberapa jalur kereta api, dan tak jauh dari jalur kereta barulah kami sampai pada tujuan, sampai disana aku melihat anak kecil dan orangtua penuh dengan tawa tanpa kelihatan ada beban, walaupun setiap lima menit sekali mereka harus berjaga untuk saling mengawasi jika ada kereta yang melintas, terkadang aku tersenyum sendiri melihat kehidupan mereka, walaupun mereka tak memiliki harta melimpah, walaupun mereka tak memiliki tahta yang tinggi mereka tetap tertawa gembira dan saling mengawasi, sejenak aku berpikir andai setiap orang bisa saling mengawasi seperti ini, saling tertawa, saling menolong tanpa mengenal batas usia dan batas harta atau tahta yang dimiliki, andai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar